JALAN YANG DITEMPUH TIDAK SELALU MULUS DAN TIDAK SELALU BERLIKA LIKU

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Pada kesempatan yang pertama ini, saya akan menceritakan sebuah kisah nyata seorang pemuda yang bergantung pada doa tanpa sadar bahwa Allah SWT merupakan sebaik-baiknya pemberi takdir.

Diawali pada tahun ia lulus sekolah, ia mengikuti sebuah proses penerimaan kerja di salah satu perusahaan besar di kota itu. Perusahaan tersebut terkenal sangat ketat dalam pemilihan karyawannya. Setelah melewati berbagai proses seleksi, dengan segala usaha yang telah dilakukan serta doa yang dipanjatkan dan dicurahkan kepada Allah, selama beberapa bulan tak kunjung mendapatkan kabar dari hasil seleksi tersebut. Dia percaya bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasil, namun pada kenyataannya hal tersebut mungkin hanya sebuah kata-kata penyemangat saja. Terlintas pada pikiran pemuda tersebut bahwa dirinya gagal dan perasaan resah, gelisah dan kecewa mulai muncul pada hatinya. Ketika mendengar para teman yang mengikuti seleksi bersamanya telah mulai bekerja, semakin dia merasa gagal dan ditolak di perusahaan tersebut.

Pemuda tersebut semakin yakin bahwa usaha tidak selalu membuahkan hasil yang baik. Tetapi dia mempercayai bahwa semua hal yang terjadi padanya merupakan sebuah rangkaian hidup yang telah Allah tetapkan pada garis hidupnya. Seperti dalam Al Qur’an surat Al-An’am ayat 59 yang artinya “… bahkan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan karena kehendak-Nya”. Membuatnya semakin yakin atas apa yang Allah tetapkan untuknya dan percaya bahwa semuanya merupakan kehendak Allah. Kembali dirinya menguatkan diri pada ketetapan Allah, ia bersabar, mencoba menerima dan berdoa kembali kepada Allah untuk menutupi rasa kecewa pada hatinya. Beberapa bulan setelah itu, akhirnya, pemuda tersebut mendapat panggilan dari perusahaan tersebut untuk melakukan training. Rasa syukur, senang, lega dan bahagia muncul secara bersamaan pada hatinya. Kehendak Allah memang tidak pernah diduga oleh makhluknya, maka senantiasalah kita berprasangka baik pada Allah.

Pemuda ini melakukan training di kantor pusat selama satu bulan, sebelum akhirnya akan ditempatkan di kantong cabang luar kota. Menurutnya, walau hanya satu bulan, tetapi ia merasakan hal yang menyenangkan, sapaan hangat dari para rekan kerjanya membuat pemuda ini nyaman dan sempat berpikir untuk tidak pergi ke kantor cabang. Namun, ia memutuskan untuk menaruh keberanian dan mencoba merantau ke luar kota. Kenyamanan dari tempat kerja sebelumnya serta keluarganya dia pertaruhkan demi beradu nasib disana.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dia mencoba beradaptasi dengan pekerjaan barunya, namun tidak kunjung mendapatkan kenyaman seperti sebelumnya. Pemuda ini mulai merasa menyesal karena meninggalkan kenyamanan sebelumnya dan jauh dari keluarganya demi gaji yang lebih besar. Pekerjaan yang menumpuk, bekerja di bawah tekanan, dan yang paling utama adalah rasa rindu yang tidak tertahankan pada keluarga membuat perasaannya semakin tidak nyaman. Akhirnya ia mendapat pelajaran bahwa kenyamanan tidak bisa digantikan oleh uang.

Setelah tiga bulan berlalu, pemuda ini mencoba melakukan pengajuan untuk kembali ke kantor pusat. Namun, permintaannya ditolak karena alasan tertentu. Ia hanya bisa pasrah dan hanya mampu serta berusaha menerima keputusan yang telah Allah kehendaki. Ia mulai membiasakan diri bekerja di bawah tekanan, sembari terus menerus berdoa pada Allah agar diberikan jalan yang terbaik menurut-Nya. Sampai akhirnya pemuda ini mendapati dirinya mendapatkan kenikmatan yang luar biasa saat mencoba mendekatkan diri pada Sang Pencipta dan itu sangat berharga baginya. Ia berfikir bahwa siklus manusia selalu seperti itu, mereka harus diberi masalah terlebih dahulu sebelum mereka mendekatkan diri lagi pada Tuhannya. Memang pada dasarnya, keimanan seseorang itu selalu diuji dan selalu naik turun. Itulah mengapa, lebih mudah meningkatkan iman daripada menjaga keimanan. 

Pemuda ini akhirnya mencari jalan lain untuk mengalihkan dirinya dari tekanan, dengan cara membuat planning mengenai apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Dirinya mencoba mendaftar kuliah di salah satu universitas, namun harapannya sirna, karena dana yang telah ia siapkan untuk keperluan kuliah, orangtuanya pakai untuk keperluan yang mendadak. Ia merencanakan hal lain, ia ingin membeli sebuah sepeda motor yang diimpikannya. Tetapi, lagi-lagi uang tabungan dari hasil jerih payahnya terpakai dengan alasan yang sama. Tak hanya itu, beberapa bulan setelahnya Allah mengambil orang yang paling ia sayangi untuk pulang kembali padanya. Ayah dari pemuda tersebut meninggal pada tahun itu. Perasaan pada pemuda ini sangat bercampur aduk, mulai dari sedih, kesal, dan kecewa. Ia hanya bisa mencoba menguatkan dirinya. Setelah semua kejadian itu, dia mencoba mendekatkan diri lagi dengan Allah, menerima semua yang telah ditetapkan Allah dengan lapang dada.

Setahun terlewati, tak terasa kontrak kerjanya akan segera habis. Pemuda ini memutuskan untuk berhenti dan tidak melanjutkan kontrak itu. Dirinya merasa semua tekanan yang ia alami sudah cukup. Dia berniat mencari pekerjaan lain yang lebih nyaman dari sebelumnya. Namun, Allah Maha Baik, semuanya selalu diluar dugaan hambanya. Pemuda ini diberi kesempatan untuk kembali ke kantor pusat dengan syarat menunggu 2 bulan sampai ada yang menggantikan posisinya yang sekarang. Dua bulan itu, tidak terasa baginya, ia kembali ditempatkan di kantor pusat bahkan dengan keadaan kerja yang lebih nyaman daripada sebelum dia pergi ke kantor cabang. Tidak hanya itu, pemuda ini dapat berkuliah dengan dana yang sangat ekonomis. Bahkan, kendaraan yang dibutuhkannnya, ia dapatkan dari almarhum ayahnya. Masih banyak lagi kejutan lain yang ia dapatnya dari doa-doa dan harapan yang ia panjatkan sebelumnya.

Pemuda ini menyadari bahwa rencana tuhan itu adalah sebaik-baiknya rencana. Bahkan ketika takdir selalu bertolak belakang dengan keinginan kita, sadarilah bahwa itu yang terbaik untuk kita. Allah selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Allah Maha Penyayang terhadap makhlunya, maka tak perlu khawatir dengan apa yang terjadi pada diri kita, karena Allah selalu mengurus kita dengan baik, selama kita tetap menggantungkan doa dan harapan serta ikhtiar yang terbaik maka Allah akan ganti semua itu dengan sebaik baiknya imbalan. Ingatlah bahwa apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah, dan apa yang menurut kita buruk, belum tentu buruk menurut Allah. Karena Allah Maha Mengetahui sedangkan kita tidak.

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Komentar